Pernahkah kamu merasa seperti sedang duduk di bangku cadangan saat semua orang asyik bermain di lapangan utama? Rasanya pasti campur aduk, antara kesal, ingin membuktikan diri, tapi juga bingung harus mulai dari mana. Nah, perasaan itulah yang kira-kira dirasakan oleh dunia koperasi kita selama bertahun-tahun. Tapi, baru-baru ini, ada angin segar yang berhembus kencang di Hotel St. Regis, Jakarta. Profesor Sri Edi Swasono, sosok raksasa ekonomi dari Universitas Indonesia, akhirnya menerima penghargaan Anugerah Amerta Bakti dalam Koperasi Awards 2026.
Tapi tunggu dulu, ini bukan sekadar seremoni bagi-bagi piala biasa. Di balik senyum bangganya, sang profesor membongkar satu fakta yang bikin banyak orang melongo: beliau pernah menolak penghargaan tertinggi koperasi beberapa tahun lalu! Lho, kok bisa? Ibarat kamu dikasih hadiah mobil sport mewah, tapi kamu menolaknya karena merasa "garasi" rumahmu belum cukup layak untuk menampungnya. Mari kita bedah lebih dalam kenapa beliau melakukan aksi "protes berkelas" tersebut.
Ketika Penghargaan Adalah "Sindiriran" Bagi Sistem
Mungkin kamu bertanya-tanya, siapa sih yang berani menolak penghargaan bergengsi? Bagi Sri Edi Swasono, menerima penghargaan saat kondisi koperasi masih "nyempil" di sudut ekonomi Indonesia terasa seperti memakai baju pesta yang mewah, padahal sepatunya belum dicuci. Beliau merasa bahwa koperasi selama ini hanya dianggap sebagai pelengkap penderita, bukan pemain kunci dalam panggung besar ekonomi nasional.
Bayangkan ekonomi Indonesia itu seperti sebuah restoran besar. Di dapur utamanya, ada sektor swasta dan BUMN yang sibuk memasak menu utama dengan kompor besar. Sementara itu, koperasi diletakkan di sudut ruangan, hanya kebagian mencuci piring atau menyiapkan bumbu-bumbu kecil. Padahal, kalau kita merujuk pada Pasal 33 UUD 1945, ekonomi kita seharusnya dijalankan dengan asas kekeluargaan, bukan cuma soal siapa yang punya modal paling gede. Nah, penolakan penghargaan oleh sang Profesor beberapa tahun lalu adalah bentuk protes agar koperasi tidak lagi dipandang sebelah mata. Beliau ingin koperasi duduk satu meja, makan menu yang sama, dan punya porsi yang setara.
Bukan Sekadar "Warung", Tapi Mindset!
Seringkali, kalau kita dengar kata "koperasi", yang terlintas di otak adalah koperasi simpan pinjam di kantor atau warung kecil di depan rumah. Padahal, menurut Sri Edi, itu adalah miskonsepsi besar yang sudah mengakar terlalu dalam. Koperasi itu bukan cuma soal badan hukum atau tempat kita menabung uang receh.
Kalau kita pakai analogi perangkat lunak (software), koperasi itu seharusnya adalah sistem operasi (OS) utama di dalam komputer ekonomi Indonesia. Jadi, setiap kali ada keputusan bisnis, setiap kali ada kebijakan investasi, "mindset" yang berjalan di latar belakangnya haruslah asas kerja sama dan gotong royong. Sayangnya, sekarang yang sering "running" di komputer ekonomi kita justru aplikasi kompetisi brutal yang saling sikut.
Jika kita ingin ekonomi Indonesia sehat, kita harus melakukan reboot sistem. Kita tidak bisa terus-terusan memakai aplikasi "saling sikut" dan berharap hasilnya adalah "kebersamaan". Ini bukan soal anti-swasta atau anti-BUMN, ini soal bagaimana cara kita berbagi kue ekonomi secara adil. Belajar lebih banyak tentang ekonomi kerakyatan di sini.
Sinergi: Menghapus Budaya "Saling Sikut" di Lapangan
Dalam sambutannya di Hotel St. Regis, sang Profesor menekankan satu hal penting: sinergi. Bayangkan BUMN, sektor swasta, dan koperasi itu seperti pemain dalam satu tim sepak bola. BUMN adalah kiper yang menjaga gawang, swasta adalah penyerang yang lincah, dan koperasi adalah gelandang yang mengatur ritme permainan agar bola tetap mengalir ke semua orang.
Kalau gelandangnya (koperasi) tidak dikasih bola, bagaimana penyerang bisa mencetak gol? Akhirnya, yang terjadi adalah kemacetan di lini tengah. Kita sering melihat BUMN dan swasta sibuk berkompetisi sendirian, sementara koperasi hanya menonton dari pinggir lapangan. Padahal, kunci kesuksesan ekonomi bangsa terletak pada asas kekeluargaan.
Bukan berarti kita tidak boleh berkompetisi, ya. Tapi kompetisi yang sehat itu seperti lari maraton: kita berlomba, tapi tetap saling menyemangati agar semua orang sampai di garis finis. Bukan malah menjegal kaki lawan agar kita yang menang sendiri. Itulah yang dimaksud dengan Demokrasi Ekonomi yang sering digaungkan oleh Bung Hatta, sosok yang sangat dihormati oleh Sri Edi Swasono.
Optimisme Baru di Bawah Kepemimpinan Ferry Juliantono
Setelah bertahun-tahun "merajuk" karena kondisi koperasi yang kurang diperhatikan, kini ada secercah harapan baru. Sri Edi Swasono tampak jauh lebih optimis. Mengapa? Karena menurut beliau, ada sosok Menteri Koperasi yang baru, yaitu Ferry Juliantono, yang punya frekuensi pemikiran yang sama.
Ibarat sebuah band yang selama ini tidak kompak, kini sang vokalis dan pemain gitarnya sudah mulai menemukan chemistry. Sri Edi menyebut bahwa ide-ide Ferry Juliantono sangat mirip dengan pemikiran Bung Hatta. Ketika pemimpin punya visi yang sejalan dengan fondasi bangsa, maka pergerakan koperasi tidak lagi seperti mendayung perahu melawan arus, melainkan seperti perahu yang sudah dilengkapi mesin jet.
Tentu saja, perubahan ini tidak akan terjadi dalam semalam. Mengubah mindset sebuah bangsa itu seperti mengubah arah kapal tanker raksasa di tengah laut; butuh waktu, ketelatenan, dan navigasi yang presisi. Namun, melihat semangat para tokoh ekonomi kita saat ini, setidaknya kita bisa sedikit bernapas lega bahwa kapal koperasi Indonesia sudah mulai berbelok ke arah yang benar.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Warga Biasa?
Mungkin kamu bertanya, "Saya kan bukan menteri, bukan ekonom, lalu apa pengaruh saya terhadap koperasi?" Jawabannya sederhana: partisipasi.
Koperasi itu seperti akun media sosial. Kalau tidak ada penggunanya yang aktif, platformnya akan mati. Begitu juga koperasi. Jika kita sebagai warga hanya memandang koperasi sebagai "barang antik" masa lalu, maka ia memang akan tetap menjadi barang antik. Tapi, kalau kita mulai mendukung produk lokal, bergabung dengan koperasi produsen, atau sekadar menerapkan nilai-nilai gotong royong dalam bisnis kecil-kecilan kita, kita sebenarnya sedang "meng-klik like" dan "share" untuk masa depan ekonomi yang lebih adil.
Jangan biarkan koperasi menjadi fosil yang hanya dibicarakan di ruang kuliah ekonomi saja. Mari kita bawa semangat gotong royong ini ke dalam kehidupan sehari-hari. Ingat, ekonomi yang kuat bukan ekonomi yang hanya bikin segelintir orang kaya raya, tapi ekonomi yang mampu mengangkat derajat orang banyak secara bersamaan.
Kesimpulan: Saatnya Koperasi Naik Kelas
Menerima Anugerah Amerta Bakti kali ini bukan sekadar penutup cerita bagi Sri Edi Swasono, melainkan sebuah pesan simbolis. Pesan bahwa dunia koperasi Indonesia siap untuk "naik kelas". Dari yang tadinya hanya dianggap "anak tiri" atau "pelengkap", kini koperasi diharapkan menjadi fondasi yang kokoh dalam struktur ekonomi nasional.
Kita sudah terlalu lama terbiasa dengan gaya ekonomi yang individualis. Saatnya kita kembali ke akar, yaitu gotong royong. Seperti kata Sri Edi, koperasi bukan sekadar tempat simpan pinjam, melainkan cara pandang hidup. Jika kita semua mulai menerapkan nilai kerja sama dalam pekerjaan, bisnis, dan interaksi sosial kita, maka tidak perlu waktu lama sampai Indonesia benar-benar menjadi negara yang makmur sesuai amanat pendiri bangsa.
Jadi, untuk kamu yang selama ini masih skeptis dengan koperasi, mungkin ini saatnya untuk melihat dari sudut pandang baru. Koperasi itu bukan masa lalu, koperasi itu adalah solusi masa depan yang sedang kita rancang ulang. Mari kita dukung gerakan ini, karena pada akhirnya, kita semua berada di "kapal" yang sama. Jika kapal ini bocor, kita semua tenggelam. Tapi jika kapal ini berlayar dengan mesin gotong royong yang efisien, kita semua akan sampai ke tujuan dengan selamat dan sejahtera. Baca juga artikel menarik lainnya tentang tips finansial di sini.
Bagaimana menurutmu? Apakah kamu siap menjadi bagian dari kebangkitan koperasi di era baru ini? Jangan sampai ketinggalan kereta, ya! Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten, dan hari ini, langkah itu dimulai dari kesadaran kita semua.
